Daftar Isi

Biografi

Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan

Di kepulauan Seribu Masjid, Lombok Nusa Tenggara Barat barang

kali tidaklah asing bila mendengar nama Syaikh Zainuddin atau sering disebut Maulana Syaikh. Karir dan kehidupannya banyak memberi mamfaat dalam konteks perubahan dan pembaharuan di pulau tersebut.

Hal inilah yang barangkali membuka mata hati kita dan para peneliti lainnya untuk menyibak tabir yang tersembunyi dibalik kehidupan beliau. Sehingga nama beliau sulit rasanya dipisahkan dengan corak keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Syaikh Zainuddin adalah putra dari pernikahan TGH. Abdul Majid dengan Hj. Halimatu as-Sa’diyyah. Ia lahir di Bermi Pancor Lombok Timur NTB pada hari rabu, 17 Rabiul Awwal 1326 H/ 1904 M [7]. Namun ada sebagian yang mengatakan bahwa Ia lahir pada 1324 H / 1906 M dan di tanggal yang sama [8].

Syaikh Zainuddin adalah nama panggilan akrab beliau dari hari ke hari terutama setelah kepulangan beliau dari tanah suci.

Nama aslinya adalah Muhammad as-Saggaf [9] yang merupakan nama sewaktu muda, kemudian diganti oleh ayahnya sendiri dengan nama H. Muhammad Zainuddin [10] setelah menunaikan ibadah haji [11]. Selain Maulana Syaikh yang sekaligus julukannya, beliau juga sering disebut dengan sebutan Abu Raihan Wa Raihanun yang dinisbahkan pada kedua putri beliau yaitu Hj. Siti Rauhun dan Hj. Siti Raihanun.

Disamping itu, juga beliau dijuluki dengan Abul Masajid, Abul Masakin. Bahkan sebelumnya terutama dipermulaan kehadiran beliau di tanah Lombok, beliau disebut sebagai Tuan Guru Bajang yang berarti “Tuan Guru Muda” [12]. Selanjutnya beralih pada sebutan Tuan Guru Pancor dikarenakan banyaknya Tuan Guru-Tuan Guru lain yang bermunculan termasuk dari kader serta murid beliau.

Dan setelah menetap di Lombok barulah beliau dikenal dengan sebutan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Syaih Zainuddin yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara yakni kakak pertamanya Siti Syarbini, kemudian Siti Cilah, lalu Hj. Saudah, baru H. Muhammad Sabur dan Hj. Masyitah [13], amat dikenal oleh kawan-kawannya dengan sosok jujur, cerdas dan pemberani begitu juga dengan sopan santunnya yang berbeda dari kebanyakan anak-anak pada masa itu.

Sifat serta sikap kehidupan yang berbeda dari kebanyakan temannya pada saat itu, membuatnya terposisikan dan disegani teman sepermainannya. Dan barang kali tidaklah mengherankan, dimana beliau terlahir di tengah-tengah keluarga sholihah, dan ayahnya sendiri merupakan seorang Tuan guru besar saat itu yang dikenal dengan sebutan “Guru Mukminah”.

Dan tidaklah berlebihan bila perhatian dan kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya agak sedikit berbeda dengan perhatian pada saudara-saudara yang lain sampai pada tingkat pendidikan yang diperolehnya. Hal itu dibuktikan dengan ditemaninya saat mengenyam pendidikan di as-Saulatiyyah Makkah, kemudian dicarikannya guru yang dianggap memiliki kapasitas serta kredibilitas tinggi.

Tidak hanya itu, Perhatian serta doa [14] yang diberikan pada putranya itu tidak henti, dan selalu diucapkan sampai menghembuskan nafas terakhir, beliau dimakamkan di Mu’alla Makkah. Sebelum memasuki pendidikan formal Syaikh Zainuddin diusianya yang ke-5 tahun untuk pertama kalinya belajar di lingkup keluarga bimbingan ayahnya sendiri TGH. Abdul Majid dengan mata pelajaran al-Quran, nahwu sarof, fiqih dll.

Kemudian baru pada usia yang ke-9 tahun Ia memasuki pendidikan formal di Sekolah Rakyat Negeri Selong Lombok Timur dalam kurun waktu 4 tahun di tahun 1919 M. Seusai itu orang tuanya menyerahkan lagi untuk mengkaji agama secara mendalam melelui beberapa Tuan guru setempat [15] dengan beberapa materi yang dikenal saat itu.

Selanjutnya di usia yang ke-17 (1341 H/ 1923 M) beliau diberangkatkan haji oleh orang tuanya bersama 3 saudara kandung dan menetap di Makkah. Di sini Syaikh Zainuddin tidaklah langsung memasuki sekolah formal sebagaimana lazimnya, melainkan beliau belajar secara privat dari beberapa ulama ternama waktu itu.

Untuk yang pertama kalinya beliau belajar pada Syeikh Marzuki salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram. Namun kemudian sempat tersendat dikarenakan satu dan lain hal [16], Ia kemudian belajar pada Syeikh Amin al-Qutbi seorang Ahli Sastra kenamaan, selanjutnya pada Syeikh Sayyid Muhsin al-Palembangiy dengan mempelajari beberapa materi pelajaran secara spesifik.

Beberapa bulan setelah itu, tepatnya pada tahun 1928 barulah Ia memasuki sekolah formal di sebuah Madrasah Legendaris yakni “Madrasah as-Saulatiyyah” (1364 H/1927 M) yang pada saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah dan di sana Ia banyak berkenalan dengan sejumlah ulama ulama besar seperti Syeikh Muhammad Hasan al-Masysyath, Syeikh Sayyid Muhammad al-Musawa.

Dan di sinilah Ia digembleng dengan dengan ilmu pengetahuan melalui tahap-tahap pengujian oleh rektor mMadrasah serta beberapa tenaga pengajar [17]. Karir Syaikh Zainuddin khsusnya dilingkup sekolah maupun di luar banyak dikenal oleh guru-guru serta teman temannya karena kecerdasan, kelemah-lembutan dan kefasihan dalam berdialog baik dikalangan sekolah maupun tingkat aliran yang menyebar saat itu.

Hal ini diakui oleh kawan sekelasnya yaitu Syaikh Zakaria Abdullah Bila, dalam sebuah ungkapanya :“Saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin, saya bergaul dekat bersamanya beberapa tahun. Saya sangat kagum dengannya. Dia sangat cerdas akhlaknya mulia, dia sangat tekun belajar sampai-sampai jam keluar mainpun diisinya dengan menekuni kitab pelajaran dan berdiskusi dengan kawan-kawannya”[18].

Hal yang serupa juga dikatakan oleh gurunya Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi dalam sebuah ungkapan Syair:

 لله زين الدين في فضله # في مجده السامي و في نيلهله يد بيضاء دلَّت على # جوهرة المكنون في اصلهله تأليف كزهرة الربا # قد ضمَّت الشكلُ الى شكله

“Demi Allah saya kagum pada Zainuddin # Kagum dari kelebihan atas orang lain. Kesabaran dan ketulus ikhlasannya menunjukkan # bahwa ia laksana permata di antara bebatuan. Jasa dan karyanya semerbak mewangi bagai bunga di tengah kawanan # yang terangkai dalam karangan indah di lereng pegunungan”. [19]

Dan masih banyak ungkapan-ungkapan serupa baik yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung oleh segenap civitas akademika serta kawan-kawan sekelasnya sebagai seorang santri sekaligus mahasiswa yang merujuk pada konteks di atas. Namun hal itu tidak membuat beliau lantas kemudian terlena dengan belaian pujian, melainkan hal tersebut sebagai aset spirit introspektif dalam konteks peningkatan diri dari hari ke hari.

Dan tepatnya pada tahun 1351 H/ 1933 M atau 1352 H/1934 M, Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan predikat “Mumtaz” atau sekarang dikenal dengan Cumlaude dengan perolehan nilai 10 pada masing-masing mata kuliah. Dan sebagai konsekuensi akademis, pihak civitas akademika menganugerahinya tanda bintang sebagai penghargaan atas prestasinya. Dan lengkaplah bahwa Ia Syaikh Zainuddin belajar di tanah suci kurang lebih selama 12 tahun terhitung sejak Ia bermukim di Makkah.

Guru-gurunya

Tercatat bahwa sejumlah mata kuliah yang pernah beliau pelajari tidaklah diketahui secara pasti jumlahnya. Namun demikian, para pengamat sejarah sepakat bahwa terdapat beberapa mata kuliah yang pernah beliau ikuti baik sebelum belajar di Makkah dan sesudahnya, maka kami uraikan sebagai berikut sekaligus dengan Masyaikh-masyaikh yang pernah mengajarnya:

1) Untuk studi al-Qur’an dan Kitab Melayu sejak pertama kalinya dan seterusnya Ia belajar pada: TGH. Abdul Majid (ayahandanya sendiri), TGH. Syarafuddin, TGH. Muhammad Sa’id, TGH. Abdullah bin Amaq Dujali, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Syeikh al-Kabir al-Arifubillah Maulana Syeikh Hasan Muhammad al- al-Masysyath, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Faqih Maulana al-Syeikh Umar Bajunaid al- Syafi’I, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Faqih Maulana Syeikh Muhammad Syaid al-Yamani al-Syafi’I, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Mutaffanin Sibawaihi Zanamihi Maulana Syeikh Ali al-Maliki, Maulana Syeikh Abu Bakar al-Palimbani, Maulana Syeikh Hasan, Jambi al-Syafi’I, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Muffasir Maulana al-Syeikh Abdul Qadir al-Mandili al-Syafi’I, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Shufi Maulana Syeikh Muhtar Betawi al-Syafi’I, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Muhaddith Maulana Syeikh Umar Hamdan al Mihrasi al-Maliki, Al ‘Alim al- ‘Allamah al-Muhaddith Maulana Syeikh Abdul Qadir al-Syibli al-Hanafi, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Adib al-Shufi Maulana Syeikh al-Syayid Muhammad Amin al-Kuthbi al-Hanafi, Al ‘Alim al-‘Allamah Maulana Syeikh Muhsin al-Musahwa al-Syafi’I, Al ‘Alim al-‘Allamah al-Falaqi Maulana Syeikh Khalifah al-Maliki, Al ‘Alim al-‘Allamah Maulana Syeikh Jamal al-Maliki, Maulana Syeikh al-Shahih Muhammad Shalih Mukhtar al-Makhdum al-Hanafi, Al-‘Alim al-‘Allamah al-Syafi’i Maulana Syeikh Mukhtar al-Makhdum Al Hanafi, Maulana Syeikh al-Syayid Ahmad Dahlan al-Syafi’I, Maulana Syeikh Salim Cianjur al-Syafi’I, Al-‘Alim al-‘Allamah al-Muarrikh Maulana Syeikh Salim Rahmatullah al-Maliki, Maulana Syeaikh Abdul Gani al-Maliki, Maulana Syeikh al-Syayid Muhammad Arabi al-Tubani al-Jasairi al-Maliki, Maulana Syeikh al-Faruq al-Maliki, Maulana Syeikh al-Wa’id al-Syeikh Abdullah al-Farisi, Maulana Syeikh Mala Musa

2) Dalam studi Ilmu Tajwid, al-Qur’an dan Qiraat Sab’ah belajar pada: Al-Syeikh Jamal Mirdad (Imam di makam Imam Hanafi di Masjidil Haram), Al-Syeikh Umar Arba’in (Ahli Qur’an dan Qasidah yang sangat terkenal), Al-Syeikh Abdul Latif Qari (Guru Besar di Qiraat Sab’ah di Madrasah Al-Shaulatiyah), Al-Syeikh Muhammad Uba’id (Guru Besar dalam bidang Tajwid dan Qiraat yang sangat terkenal di Makkah).

3) Untuk sekelas Ilmu Fiqh, Tasawuf, Tajwid, Usulul Fiqh dan Tafsir, Ia belajar pada: Al-‘Alamah ‘al-Syeikh Umar Bajunaid al-Syafi’I, Al-‘Alimul al-Alamah al-Syeikh Muhammad Said al-Yamani, Al-‘Alamah al-Syeikh Muhtar Betawi, Al-‘Alamah al-Syeikh Abdul Qadir al-Mandili (Murid Khusus dari al- ‘Allamah Syeikh Ahmad Hamud Minangkabau Sumatera Barat), Al-‘Alamah al-Faqih Abdul Hamid Abdur Rabb al-Yamani, Al-‘Mutaffanin al-‘Allamah al-Syayid Muhsin al-Musawa (Pendiri Darul Ulum al-Diniyah Makkah Mukarramah), Al-‘Allamah al-Adib al-Syeikh Abdullah al-Lajahi al-Farisi (Pengarang Yang Sangat Terkenal)

4) Untuk Ilmu ‘Arud, Ia belajar pada: Syaikh Abdul Ganiy al-Qadli, Syeikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi, Syaikh as-Shalih Muhammad Shalih al-Kalintaniy.

5) Untuk Ilmu Falak, Ia belajar pada: Syeikh Salim Cianjur al-Falaki, Syaikh al-Khalifah, Syaikh Sayyid Ahmad Dahlan.

6) Untuk Ilmu Hadis dan ‘Ulumul Hadis, Faraid, Tafsir, Tarikh dll, Ia belajar pada: Syaikh Ali al-Maliki Sibawaihi Zamaniy, Syaikh Abdu as-Sattar as-Shidiqy Abdullah al-Bukhariy as-Syafi’iy, Syaikh Salim Rahmatullah al-Malikiy, Syaikh Hassan Muhammad al-Masy-syath al-Malikiy, Syaikh Mukhtar Makhdun al-Hanafiy, Syaikh Sayyid Muhsin al-Musawa, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafiy, Syaikh Umar al-Faruq al-Malikiy, Syaikh Abdul Qadir al-Syalabiy al-Hanafiy, Syaikh Kiai Falak Bogor, Syaikh Malla Musa al-Magribi.

7) Dan Ilmu Ilmu al-Khath, Ia banyak belajar pada: al-Khaththath Syaikh Abdul Aziz Langkat, al-Khaththath Syaikh Muhammad ar-Rais al-Malikiy, al-Khaththath Syaikh Dawud ar-Rumaniy al-Fathaniy [20].

Karir Kepemimpinan

Syaikh Zainuddin, dalam konteks keindonesiaan dikenal sebagai ulama besar karena ilmu yang dimiliki sangat luas dan mendalam. Demikian juga kharisma beliau sebagai figur ulama yang demikian besar. Perjuangan dan kepemimpinan beliau senantiasa diarahkan untuk kepentingan umat. Penghargaan dan penghormatan yang diberikan kepada seseorang yang telah berjasa kepadanya terutama kepada guru-guru beliau diwujudkan dalam bentuk yang dapat memberikan manfaat kepada umat.

Sebagai seorang ulama yang kharismatik, Syaikh Zainuddin merupakan bagian pokok dari teladan umat dalam konteks perilaku keagamaan. Ia menjadi cermin dan mata air kehidupan dari orang-orang yang haus kebenaran. Ketegasan serta wibawa dan tanggung jawabnya sebagai konstruktor sosial menjadikan Ia disegani dan dipanuti masyarakat.

Terhitung sejak beliau menginjakkan kakinya di kepulauan Lombok setelah menyelesaikan studinya, beliau dihadapkan pada dua tantangan kemanusiaan yakni tantangan kemerdekaan dan tantangan kejahiliyahan. Tantangan kemerdekaan ini beliau secara langsung sebagai orang terdepan untuk membebaskan derita rakyat dari tikaman Belanda dan Jepang.

Dan hal yang paling berat dirasakan dibandingkan dengan keselamatan nyawa adalah tikaman moral dari pihak Jepang untuk membubarkan dua Induk Madrasah NWDI dan NBDI yang tidak pernah berhenti untuk mewujudkannya. Dan sikap pemerintahan Jepang tersebut diwujudkan dalam bentuk perlawanan baik dari pemikiran, moral, ekonomi serta melibatkan perang fisik hingga mengakibatkan banyaknya korban dari kalangan tuan guru sendiri maupun santri dan sejumlah masyarakat setempat.

Dan barang kali kita juga sudah mengetahui bagaimana kebengisan dan kebiadaban NICA (Netherlands Indies Ciivil Administrastion) pasca kemerdekaan yang banyak mengundang kemarahan bangsa Indonesia, khsusunya di Lombok. Inilah kemudian Syaikh Zainuddin bersama pendukungnya melalui gerakan “al-Mujahidin” serta gerakan-gerakan lokal lainnya ikut serta menumpas sebagai bentuk perlawanan atas ketidakperikemanusiaan.

Disamping itu, beliau dihadapkan dengan tantangan kemanusiaan dari kejahiliyahan. Hal ini banyak dipengaruhi oleh kemunculan Islam sebelah atau yang disebut dengan Islam Wetu Telu dan insya Allah akan dijelaskan pada pembahsan berikutnya. Kendati demikian realitas tersebut berhasil diminimalisir dengan kepemimpinana beliau dan gerakan gerakan yang beliau bangun selama perjuangan.

Ada hal yang menarik dari diri beliau bahwa, kapasitasnya sebagai pemimpin, hubungan Guru dan Santri selalu ia eratkan dalam konteks dan aspek apapun. Disamping itu beliau selalu menekankan pada santrinya agar banyak memberi mamfaat bagi perjuangan Nahdlatul Wathan. Dan tentu kita tidak menyatakan bahwa hal ini lebih mementingkan organisasi ketimbang perjuangan agama, melainkan ungkapan Nahdlatul Wathan tersebut dikarenakan materi yang ada di dalamnya dalam hal ini adalah Agama Islam. Dan tidaklah salah bila beliau mengungkapkan:


ان اكرمكم عندي أنفعكم لنهضة الوطن # وان شرّكم عندي اضرًّكم لنهضة الوطن
“Sungguh yang paling mulia disisiku adalah yang paling memberi arti bagi perjuangan Nahdlatil Wathan # dan yang paling jahat di sisiku adalah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan”

Ini adalah ungkapan tasybih pada pentingnya pertahanan dalam membela Agama Islam. Dan ungkapan Nahdlatul Wathan tersebut tentu maksudnya adalah objek yang diperjuangkan NW yakni agama Islam, sekaligus manifestasi dari ayat al-Quran untuk mewujudkan hamba yang bertaqwa.
Beberapa bentuk penghargaan baik dari kalangan pemerintah setempat maupun pemerintah belanda saat itu, walau kadang mengecewakan bagi pihak NW, sudah diraihnya.

Karena pembawaan dan sikap hidup beliau selalu menunjukkan kesederhanaan inilah yang membuat beliau selalu dekat dengan warga dan murid-muridnya dengan tidak mengurangi kewibawaan dan kharisma yang beliau miliki. Keluhan yang disampaikan warga dan muridnya ditampung, didengar dan dicarikan jalan penyelesaiannya, dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan dengan tidak merugikan salah satu pihak.

Semangat keilmuan pun terus dipompa pada khalayak santri serta warganya sehingga memiliki kader-kader yang berbobot, berpotensi dan militan. Bahkan pernah Ia menyampaikan agar murid dan santri beliau memiliki ilmu pengetahuan sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Demikian motivasi yang selalu beliau kumandangkan supaya murid dan santri beliau lebih tekun dan berpacu dalam menuntut ilmu pengetahuan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pun dalam menerima dan menghadapi para murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan, beliau tidak pernah membedakan antara yang satu dengan yang lain. Semua murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan diberikan perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya, bagaikan cinta dan kasih sayang seorang bapak kepada anak-anaknya. Yang membedakan murid dan santri dihadapan beliau adalah kadar keikhlasan dan sumbangsihnya kepada Nahdlatul Wathan.

Dan, untuk membina dan memonitor kualitas kader Nahdlatul Wathan, beliau mengeluarkan wasiat dalam bahasa arab, yang Artinya “Dengan menyebut nama Allah dan dengan memuji-Nya semoga keselamatan tetap tercurah padamu, demikian pula rahmat Allah, keberkatan, ampunan dan ridha-Nya. dll.

Selain sebagai revolusioner beliau juga sebagai penggagas dan penggerak pendidikan melalui pendirian lembaga-lembaga dilingkup Nahdlatul Wathan. Hal inilah yang kemudian membuat beliau dianggap sebagai tokoh pembangunan khususnya dilingkup NW sendiri dan diakui oleh sejumlah Ormas-ormas lainnya seperti NU, Muhammadiyah, Yathofa, AMPIBI, Marakit dan beberapa Ormas kecil di NTB. Secara garis besar prestasi dan lembaga-lembaga yang pernah beliau dirikan dapat dirincikan sebagai berikut [21]:

A. Pra dan Pasca Kemerdekaan (1934 -1943)
1. mendirikan pesantren Al-Mujahidin
1934
2. mendirikan Madrasah NWDI
1937
3. mendirikan madrasah NBDI
1943
B. Era Orde Lama (1945 – 1971)
1. Pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok
1945
2. Pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur
1946
3. Menjadi Amirul Haji dari Negera Indonesia  Timur
1947-1948
4. Menjadi Anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Saudi Arabia
1948-1949
5. Konsulat NU Sunda Kecil
1950
6. Menjadi Ketua Badan Penasehat Masyumi Daerah Lombok
1952
7. Mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan
1953
8. Menjadi Ketua Umum PBNW Pertama
1953
9. Merestui terbentuknya parti NU dan PSII di Lombok
1953
10. Merestui terbentuknya PERTI Cang  Lombok
1954
11. Menjadi Anggota Konstituante RI hasil Pemilu I
1955
12. Mendirikan Akademi Paedagogik NW
1964
C. Era Orde Baru (1971 hingga wafat)
1. menjadi Anggota MPR RI hasil pemilu II dan III
1971-1982
2. menjadi Penasehat Majlis Ulama’ Indonesia Pusat
1971-1982
3. mendirikan Ma’had Lil Banat
1974
4. menjadi Ketua Penasehat Bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram
1975-1997
5. mendirikan Universitas Hamzanwadi
1977
6. Menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi
1977
7. mendirikan fakultas tarbiyah universitas hamzanwadi
1977
8. mendirikan STKIP Hamzanwadi
1978
9. mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi
1978
10. mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi
1982
11. mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan mataram
1987
12. mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi
1987
13. mendirikan Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi
1990
14. mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri
1994
15. mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi
1996

Karya-karya

Sebagaimana lazimnya ulama pembaharu lainnya, beliau tergolong ulama yang produktif dalam konteks karya tulis. Tentu hal ini tidaklah didasarkan semata-mata ingin dikenal, namun karena tuntutan zaman yang makin berkembang. Sosialisasi agama dan keagamaan tentulah tidak cukup melalui pendekatan aplikatif semata. Dikarenakan agama Islam sebagai ilmu maupun panduan dan paradigma, amatlah luas.

Disamping banyaknya dogma-dogma agama tertulis secara umum baik dalam al-Quran sendiri juga Hadis tentu memerlukan interpretasi dan tuntunan yang praktis bagi masyarakat menengah ke atas pada umumnya. Dan inilah yang sebenarnya diinginkan agama Islam agar disamping apa yang dibawa Rasulullah dari Tuhannya diikuti dan ditaati sepenuhnya juga dianjurkan untuk berfikir menjadi para Uqala’ dan salah satunya adalah tulis menulis.

Kegelisahan lapangan ini sangtlah dirasakan oleh Syaikh Zainddin sendiri, sehingga menuntut dirinya untuk menyampaikan pesan-pesan agama melalui catatan-catatan hingga dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Pernyataan ini juga diakui sendiri oleh Syaikh Zainuddin melalui ungkapannya:

“Bila mengingat teman-teman seperjuangan di Madrasah as-Sholatiyah Makkah seperti Syaikh Zakaria Abdullah Bila dan Syaikh Yasin al-Padangi, mereka telah banyak memiliki karya tulis yang cukup monumental”.

Suatu kenyataan memang bahwa beliau tidak banyak memiliki waktu yang luang dalam upaya tersebut. Dan ini barang kali membuat beliau sedikit kesulitan dalam membagi waktunya untuk sebuah karya tulis. Namun sebagaimana diakui oleh Hayyi Nukman dalam bukunya bahwa Syaikh Zainuddin pernah berkata:

“Seandainya aku mempunyai waktu dan kesempatan cukup untuk menulis dan mengarang, niscaya aku akan mampu menghasilkan karangan dan tulisan-tulisan yang lebih banyak seperti yang telah dimiliki Syaikh Zakaria Abdullah Bila, Syaikh Yasin Padang, Syaikh Ismail dan ulama-ulama tamatan Madrasah ash-Sholatiyah lainnya”

Berbalik dari pernyataan di atas, dibalik kesibukan beliau tercatat beberapa karya yang sempat beliau tulis dalam bentuk bahasa dan corak yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masyarakat Lombok. Beberapa karya tersebut dapat diklasifikasi sebagai berikut:

A. Kitab Tauhid
Risalatu at-Tauhid.
Kitab ini ditulis sekitar tahun 1371/ 1951 memuat soal jawab seputar akidah yang mencakup ilmu-ilmu Tauhid dalam bentuk bahasa Arab
B. Kitab Hadits
An-Nafahat ‘Ala Taqriroatu asy-Syadidah.
Sebuah kitab yang berisikan Nazam Musthalah al-Hadits dalam bentuk bahasa Arab
C. Kitab Fiqih dan Faraid
1. Sullam al-Hija’ bi Syarhi Safinatu an-Naja’.
Kitab ini memuat tentang dIsiplin ilmu-ilmu Fiqih dalam bentuk bahasa Arab yang ditulis sekitar tahun 1972
2. Nahdlatu az-Zainiyyah.
Sebuah kitab yang memuat pengetahuan tentang ilmu-ilmu Faraid dalam bentuk syair dengan hanya menampilkan matanya saja. Dan kitab ini kemudian memiliki Syarah dalam judul yang berbeda
3. Al-Fawaqih an-Nahdiyyah fi Istisyhad at-Tuhfatu as-Saniyah bi Nadzamiha an-Nahdah az-Zainiyah.
Kitab ini memuat desiplin ilmu-ilmu Faraid yakni ilmu mengenai pembagian harta waris berikut tata caranya serta argumentasinya dari al-Quran dan Sunnah. Penulisan kitab tersebut sekitar tahun 1358/ 1939
4. At-Tuhfatu al-Anfenaniyah bi Syarhi Nahdlatu az-Zainiyyah.
Sebuah kitab yang berisikan ilmu-ilmu Faraid yang merupakan syarah dari Nahdlatu az-Zainiyah dalam bentuk bahasa Arab. Kitab ini ditulis sekitar 1416/1996 dengan jumlah isi 122 halaman. [22]
D. Kitab Ulumu al-Quran
1. Nailu al-Anfal Batu Ngompal.
Sebuah kitab yang bertuliskan disiplin ilmu Tajwid dalam format Syair bahasa Arab-Melayu. Kitab ini ditulis sekitar tahun 1363/ 1943.
2. Anak Nunggal: Taqrirat Batu ngompal.
Kitab yang merupakan kesamaan dari kitab di atas
E. Kitab Tashowwuf/ Tariqat
1. Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan
Kitab ini sangatlah kecil namun memiliki keluasan makna yang tidak pernah pupus dalam penelitian. Kitab ini merupakan bacaan harian.
F. Kitab Risalah Doa dan Wirid
1. Hizib Nahdlatul Wathan.
Sebuah kitab yang sangat monumental dan hampir ruh Nahdlatul Wathan berpusar di kitab tersebut. Kitab ini tulis sekitar tahun 1957 dalam bentuk bahsa Arab yang berisikan ayat-ayat suci serta Hadits, zikir dan Doa juga syair-syair ternama
2. Hizib Nahdlatul banat.
Tajuk yang sama, hanya saja kitab ini dikhususkan untuk kaum hawa
3. Ikhtishar Hizib Nahdlatul Wathan.
Merupakan synopsis dari kitab Hizib Nahdlatul Wathan
4. Al-Ad’Iyyah wa al-Mandzumatu ad-Diniyah.
Sebuah kitab yang tipis memuat kumpulan doa-doa dan solawat yang kemudian dilengkapi dengan bait-bait Syair akidah, ilmu waris dan Tajwid, ilmu Bayan dan Nasyid lainnya. Kitab ini biasanya dibaca oleh Tullab Ma’had Daru al-Quran wa al-Hadits al-Majidiyyah asy-Syafi’iyyah Nahdlatul Wathan. [23]
G. Risalah Sholawat dan Doa
1. Asmau al-Husna
2. Sholawat al-Hikmah
3. Sholawat Nahdlatain.
Merupakan risalah doa yang amat monumental, dimana sholawat ini dijadikan sebagai Sholawat Nahdlatul Wathan
4. Sholawat Taisir
5. Sholawat Mab’uts Rohmatan Lil ‘Alamin
6. ‘Asyru ash-Sholawat
7. Sholawat al-Mukhlishin al-Makbulin
8. Sholawat Kun Fayakun
9. Sholawat Miftahi Babi Rahmah
10. Al-Baqiyatu ashSholihat, dll.
H. Kitab Sastra
Syarhu Mi’raju ash-Shibyan Ila Saami’I al-Bayan.
Sebuah kitab yang berisi ilmu-ilmu balagah yang merupakan bagian terpenting dalam ilmu sastra. Kitab tersebut ditulis sekitar tahun 1416/ 1996 dengan jumlah halaman sebanyak 54. [24]
I. Seni Tarik Suara
1. Ahlan Biwafdizairin
2. Bersatulah Haluan
3. Imammuna Syafi’i
4. Mars Nahdlatul Wathan
5. Nahdlatain
6. Pacu Gama’
7. Tanawwar
8. Ta’sis NWDI (Anti Ya Pancor Biladi)
9. Ya Fata Sasak
10. Ya Man Yarul Ula
11. Ya Dzal Jala Li wal Ikram, dll.

Al-Awwaliyat

Barang kali sudah menjadi rahasia umum, dimana kita menemukan atau membaca sejarah para pembaharu dengan sistimatikanya. Keberadaan mereka sebagai pembawa pesan agama yang berada disuatu komunitas yang berbeda tentu akan dilakukan proses adaptif dengan melakukan langkah-langkah perubahan secara perlahan. Namun demikian, kita juga menyadari bahwa hal itu tidaklah mudah seperti apa yang kita bayangkan, melainkan para tokoh berbaur dengan latar belakang filsafat yang berbeda, kultur strata sosial dan sebagainya.

Dan disaat itulah mereka melakukan pembauran dengan tetap menjalankan misinya sebagai pembawa pesan agama. Dan tidak mustahil lahirlah satu kebiasaan- kebiasaan baru berdasarkan tingkat pemahaman mereka dalam memahami ajaran keagamaan. Dan kebiasaan ini dipandang tidak bertentangan dengana esensi Islam, karena dengan itulah mereka bisa menerima ajaran yang dibawa para pembaharu.

Tradisi-tradisi semacam ini, saya kira sudah lumrah dan tentu kita tidak merasa heran dengan tradisi-tradisi yang baru dan kemudian dibudayakan masyarakat setempat. Ini juga kita akui pada saat Islam mulai berkembang, dimana Islam sendiri sangat apresiatif dengan peradaban setempat yakni peradaban Jahiliyah.Dan saya rasa kita sudah mengetahui banyak mengenai peradaban-peradaban yang masih dilestarikan oleh Islam sendiri karena hal itu dipandang relevan dengan misi Islam sebagai Agama Allah.

Begitu pula yang terjadi pada diri Syaikh Zainuddin, dimana beliau berada di tengah komunitas Sasak yang penuh dengan ragam kepercayaan dan aliran terutama apa yang diwariskan ajaran Islam Wetu Telu. Di samping ada yang dirubah total ada juga sebagian yang disempurnakan dan sebagiannya ditetapkan tanpa perubahan. Beberapa tradisi-tradisi yang sudah Syaikh Zainuddin bangun selama hayatnya adalah sebagai berikut:

  1. Melestarikan tradisi Ziarah Makam Massal atau yang dikenal dengan Safari Makam. Makam makam yang dikunjungi adalah sejumlah makam para wali, pejuang, serta tokoh keagamaan lainnya yang dipandang cukup berjasa dalam penyiaran agama Islam khususnya di bumi Lombok. Dan kegiatan ini biasanya diadakan pada hari-hari besar Nahdlatul Wathan seperti Wisudawan Mahasiwa Ma’had Darul Quran wa al-Hadits al-Majidiyyah asy-Syafi’iyyah, di awal-awal penerimaan santri baru, juga pada setiap hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
  2. Menggelar doa Akbar dengan pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan
  3. Mengadakan Tariqat-tariqat dengan kaifiyat khas Nahdlatul Wathan
  4. Mengadakan Syafatul Kubra
  5. Mentradisikan Pengajian Umum, dll

Sumber: https://pemuda-kukar.nwkaltim.or.id/2015/11/biografi-pendiri-nahdlatul-wathan.html